Tanggapan atas Rubrik Klinik Hukumonline

Pagi ini saya membaca tweet dari Hukumonline tentang “Hukum Merekam Menggunakan Kamera Tersembunyi (Hidden Camera)” yang terdapat dalam tautan ini. Setelah membaca isinya, saya berpendapat bahwa terdapat penerapan pasal yang tidak tepat atas pertanyaan tersebut, yaitu penerapan Pasal 31 ayat (1) jo. Padal 47 UUITE. Saya telah menyampaikan kepada Hukumonline ada kekurangtepatan penerapan pasal dalam kasus yang ditanyakan.


Atas tanggapan saya tersebut, Hukumonline ingin mengetahui tanggapan saya lebih lengkap atas jawaban di Rubik Klinik tersebut. Berikut adalah email tanggapan saya ke Hukumonline.

Dear Hukumonline,

Sebagaimana disampaikan melalu twitter, berikut saya sampaikan tanggapan saya atas Rubik Klinik mengenai “Hukum Merekam Menggunakan Kamera Tersembunyi (Hidden Camera)” yang terdapat dalam tautan http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt508a38edc9c87/hukum-merekam-menggunakan-kamera-tersembunyi-(hidden-camera)

Merujuk pada tanggapan yang diberikan oleh Sdr. Teguh Arifiyadi dalam paragraf 2 dijelaskan bahwa atas tindakan merekam menggunakan kamera tersembunyi salah satunya dapat diterapkan Pasal 31 ayat (1) jo. Pasal 47 UU ITE.

Menurut saya penerapan Pasal 31 ayat (1) jo. Pasal 47 UU ITE dalam kasus ini tidak lah tepat dengan alasan yang menjadi objek penyadapan/intersepsi dalam Pasal 31 ayat (1) UUITE tersebut adalah “transmisi” Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang tidak bersifat publik. Penegasan dalam pasal ini ada pada kata “transmisi” yang secara tata bahasa diartikan sebagai “pengiriman (penerusan) pesan dsb dr seseorang kpd orang (benda) lain”.

Berdasarkan pengartian seperti di atas, apakah tepat jika kita menyebut kegiatan merekam video adalah kegiatan pengiriman pensan dari seseorang kepada orang lainnya? Lebih lanjut, secara teknis pun Pasal 31 ayat (1) UU ITE ini merujuk pada intersepsi/penyadapan atas electronic information / electronic documents transmission sementara kegiatan merekam merujuk pada istilah data recording di mana tidak terdapat pengiriman data informasi atau dokumen elektronik yang diintersep/disadap. Silahkan merujuk pada website http://www.ieee.org untuk melihat variasi dari transmission yang dimaksud dalam kajian teknis.

Contoh sederhana untuk menggambarkan penerapan Pasal 31 ayat (1) UUITE adalah: saya mengirimkan email kepada Redaksi Hukumonline di mana ada pihak ketiga yang melakukan sniffing atas jaringan email server saya sehingga email saya kepada Redaksi Hukumonline di-intersep/disadap dan dapat dibaca isinya. Inilah contoh penerapan intersepsi/penyadapan yang dirujuk dalam Pasal 31 ayat (1) UUITE.

Selain tidak terpenuhinya unsur “merekam transmisi” sebagaimana di atas, terdapat pula unsur yang tidak terpenuhi seandainya kita menerapkan Pasal 31 ayat (1) UUITE dalam kasus ini, yaitu unsur “menggunakan jaringan kabel komunikasi maupun jaringan nirkabel, seperti pancaran elektromagnetis atau radio frekuensi”. Di mana letak tindakan intersepsi/penyadapan dengan menggunakan jaringan kabel/nirkabel komunikasi dalam hal ini? Tidak ada.

Pasal 31 ayat (1) UUITE ini dapat diterapkan dalam kasus yang ditanyakan apabila si pelaku perekaman video dengan hidden camera menggunakan camera wireless dan kemudian ada pihak ketiga yang mengintersepsi / menyadap rekaman yang dibuat si pelaku. Dari contoh ini terlihat bahwa penyadapan tidak terjadi pada saat si pelaku merekam, tetapi terjadi pada saat ada data yang terkirimkan dari camera yang digunakan si pelaku ke server milik sipelaku (sebagai contoh).

Demikian yang dapat saya sampaikan.

Regards,
Zaka

Dikesempatan berbeda, rekan @Sam_Ardi juga meng-update blog-nya atas artikel Hukumonline yang sama. Silahkan lihat artikel lengkapnya ditautan ini.

One Reply to “Tanggapan atas Rubrik Klinik Hukumonline”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.