Tidak jarang kita berpikir kalau kita telah mengenal diri kita sendiri atau bahkan sering kali juga kita berpikir kalau kita memahami orang disekeliling kita. Biasanya kalau sudah seperti ini akan timbul suatu pertanyaan, apakah benar kita telah memahami diri kita sendiri dan memahami orang lain? Pertanyaan serupa juga muncul kala kita mencoba menasehati orang lain. Apakah kita layak memberikan nasehat kepada orang lain sementara kita tidak paham dengan masalah orang tersebut?


Saya sering merasa bosan apabila mendengar curhatan sesama rekan dimana ketika si rekan pertama curhat ke rekan kedua kemudian oleh si rekan kedua dikatakan “Iya..gw mengerti kok perasaan elu…” Coba kita analisis lagi, apakah benar rasa empati kita begitu hebatnya sampai kita bisa merasakan dan mengerti perasaan orang? Perasaan bukan lah buku yang dapat dengan mudahnya di baca dan dimengerti, perasaan adalah sekumpulan dari pengalaman hidup, emosi, situasi, kondisi dan lainnya yang sudah pasti setiap orang memilikinya secara individual dan unik.

Saya sendiri sudah berusaha meluangkan banyak waktu untuk mencoba memahami orang lain. Usaha ini seringkali terhambat dengan kenyataan kalau saya belum bisa memahami diri saya sendiri. Masih banyak tanya tentang diri saya sendiri yang perlu di jawab sebelum saya berusaha memahami orang lain. Akan tetapi, upaya untuk memahami diri sendiri yang saya lakukan justru telah mengantarkan saya kepada suatu pemikiran sederhana mengenai apa dan bagaimana dalam memahami diri sendiri.

Cara mudah akhirnya saya temukan. Untuk memahami diri sendiri, cobalah memahami orang lain. Dengan kata lain, kita menjadikan orang lain tersebut sebagai cerminan dari diri kita sendiri. Setiap hari kita melihat jutaan emosi dari manusia yang begitu banyak dan beraneka ragam yang dapat kita jadikan cerminan untuk diri kita sendiri dalam memahami siapa kita sebenarnya.

Jika kita melihat ada orang yang marah ngga jelas sebabnya, maka sebaiknya kita berpikir “apakah kita juga pernah marah ngga jelas sebabnya” apabila iya, berarti kita telah mengenal salah satu pemahaman diri kita, yaitu “pernah marah yang ngga jelas sebabnya”. Jika kita melihat ada orang di angkutan umum yang memberikan tempat duduk kepada penumpang lain yang lebih memerlukan tempat duduk, kita bisa kembali bertanya kepada diri kita sendiri “bagaimana jika kondisi tersebut terjadi pada diri saya, apakah saya akan memberikan tempat duduk yang nyaman ini kepada orang lain?”.

Jadi simpulan yang dapat saya ambil adalah “Semakin sering kita berinteraksi dengan orang lain dan semakin sering kita berupaya memahami orang lain, berarti semakin kita mendekati pemahaman terhadap diri kita sendiri”

Posted Thursday, May 31st, 2007 at 10:48 pm
Filed Under Category: Day To Day
You can leave a response, or trackback from your own site.

3

Responses to “Memahami Diri Sendiri”

mbw

Aku setuju tuh dengan teori tersebut… Pengenalan terhadap diri sendiri bukan hal yang mudah, butuh perenungan. Kadang-kadang, untuk memahami siapa diri kita, bisa saja bersumber dari informasi orang lain. Misalnya, orang lain mengatakan kita “kamu itu begini yah” atw “kamu itu begitu yah”, mungkin ada benarnya juga karena informasi tersebut didapat dari orang lain yang berinteraksi dengan kita..

Sebenarnya, hal tersebut hanya opini dari orang lain. Dan, zka bukanlah orang yang dengan mudah mengambil opini dari orang lain tanpa adanya proses yang panjang atw berkenan di hatinya. Walaupun demikian, opini orang lain tersebut perlu juga direnungkan. Dengan kata lain, perenungan tetaplah penting untuk memahami siapa diri kita.

Selain dari orang lain yang berinteraksi dengan kita, menurut aku, sebuah masalah yang menimpa kita juga dapat “mencerminkan” siapa kita. Misal, kalo ada mantan cewek dari cowok kita atw cewek lain contact ke cowok kita, mendadak diri kita jadi gerah dan gak terkendali. Nah, bisa dibilang, kita itu termasuk golongan pencemburu. Tapi perlu direnungkan kembali. Biasanya sih, sifat seseorang itu merupakan hal yang berlanjut. Maksudnya begini, kalo kita pencemburu, ya, ketika menghadapi hal serupa kita akan melakukan reaksi yang sama…

Kesimpulannya, menurut aku, untuk memahami diri sendiri bukanlah hal yang mudah.Terkadang kita sudah “mencap” diri kita seperti ini, ternyata kurang tepat. Sehingga, pengenalan terhadap diri snediri membutuhkan perenungan dan proses. Perenungan dan proses tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara, ada yang dengan menggunakan interaksi dengan orang lain sebagai acuan; masalah hidup; pengalaman; dsb…

Pengenalan terhadap diri sendiri itu penting, agar dalam menjalani hidup tidak dikuasai atw dikontrol oleh orang lain atau lingkungan. Tetapi kita menjalani hidup atas penguasaan dan kontrol dari kita. -kita bisa mengetahui apa yang harus dan jangan dilakukan, apa yang terbaik dan terburuk bagi kita- ini dapat dilakukan kalau kita mengetahui apa kebutuhan kita. dan untuk mengetahui apa kebutuhan kita, perlu dipahami siapa diri kita.

Zka

Pertanyaan sederhana, seberapa jauh kamu mengenal diri kamu dan aku?

rudi

salam kenal kepada teman2 skalian

bagaimana kita mengenal diri kita sendiri dengan baik, justru keegoisan yang muncul untuk menyuruh orang lain untuk bisa mengerti kita, tapi kita sebaliknya belum bisa mengerti orang lain, bagaimana kita menyikapi tentang semua hal yang ada dalam diri kita

Leave a Reply